Filosofi ki Hajar Dewantara membuka hati saya bahwa setiap anak terlahir dengan keunikannya sendiri. Mereka berhak menemukan keunikan tersebut. Sebagai guru sudah selayaknya kita menuntun dan memfasilitasi mereka untuk menemukan dan mengoptimalkan potensi yang mereka sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.

“Anak-anak tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu” Ki Hajar Dewantara.

Ilusi guru mengontrol murid seakan guru bisa mengatur semua yang ada di dalam diri murid seperti memaksa dan memiliki hak atas murid tersebut sering rasanya kita lakukan. Seakan kita menjadi penentu semua yang ada pada diri murid tersebut, padahal kontrol bukanlah pada guru tapi pada murid itu sendiri. Terkadang Kita mencoba mengubah orang agar berpandangan sama dengan kita padahal seharusnya kita berusaha memahami pandangan orang lain tentang dunia. Kebiasaaan tersebut terlalu sering kita lakukan sehingga menjadi sebuah budaya yang kurang baik. Disiplin yang kita terapkan selama inipun belum sesuai dengan apa makna dari disiplin itu sendiri. Disiplin yang pada awalnya diartikan agar membuat orang menggali potensinya menuju sebuah tujuan, apa yang dia hargai akan tetapi makna disiplin itu berubah menjadi  sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Kecenderungan umum adalah menghubungkan kata disiplin dengan ketidaknyamanan, bukan dengan apa yang kita hargai, atau pencapaian suatu tujuan mulia.

Teori Motivasi

Ada dua motivasi yang ada pada manusia yaitu motivasi eksternal dan internal. Motivasi eksternal ada ketika seseorang berusaha menghindari sebuah hukuman atau ketidaknyamanan ketika tidak melakukan hal tersebut. Selain itu, motivasi eksternal juga berlaku ketika seseorang menginginkan sebuah imbalan ketika melakukan sesuatu. Lain halnya dengan motivasi internal dimana motivasi tersebut memang muncul dari diri sendiri orang tersebut tanpa ada pengaruh dari luar. Dengan motivasi internal, seseorang akan dapat menghargai diri sendiri dan tetap menjadi dirinya sendiri. Motivasi internal inilah yang diharapkan muncul dari diri kita sendiri maupun murid kita.

Penghargaan berlaku sama dengan hukuman, dalam arti meminta atau membujuk seseorang melakukan sesuatu untuk memenuhi suatu tujuan tertentu dari orang yang meminta/membujuk. Dorongannya eksternal dan akan ada faktor ketergantungan. Beberapa dampak dari pemberian penghargaan (Alfie Kohn, 1993). Hal yang diharapkan adalah sebuah motivasi internal dimana kita bisa membagun sendiri kesadaraan baik dari diri kita sendiri.

Restitusi

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat. Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka ingin menjadi (tujuan mulia), dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Gossen; 2004). Selain menumbuhkan motivasi internal, restitusi merupakan pilihan yang baik yang diharapkan kita lakukan ketika menyelesaikan sebuah permasalahan yang ada dimana bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan. Restitusi ini lebih fokus pada solusi bukan apa permasalahan yang sedang dihadapi. Dengan melakukan restitusi kita bisa menuntun untuk melihat ke dalam diri. Restitusi juga bisa mengembalikan murid yang berbuat salah pada kelompoknya tentunya dengan karakter yang lebih kuat.

Segitiga Restitusi

Terdapat tiga lahkah utama pada proses restitusi, diantaranya adalah :

  1. Menstabilkan identitas

Pada tahap ini guru akan memberikan pemahaman kepada murid bahwa apa yang telah dia lakukan bisa diselesaikan dengan baik tanpa harus menyalahkan diri sendiri terus menerus. Guru akan fokus kepada penyelesaian masalah bukan pada siapa yang bersalah. Dengan perlakuan seperti ini diharapkan emosi murid bisa terarah dan stabil.

  1. Validasi kebutuhan

Pada tahap ini, guru akan berdiskusi dengan murid untuk menemukan kebutuhan dasar yang diinginkan oleh murid, karena pada dasarnya setiap yang dilakukan seseorang itu akan tertuju pada kebutuhan dasar yang diperlukan. Guru akan membimbing murid untuk menemukan dan mengarahkan kebutuhan yang dibutuhkan dengan cara yang baik dan benar

  1. Menanyakan keyakinan

Pada tahap ini, guru akan mengingatkan murid untuk menemukan keyakinan sekolah atau kelas yang sudah pernah disepakati bersama. Sehingga secara sadar murid akan menyadari apa yang telah diperbuatnya merupakan hal yang tidak sesuai dengan keyakinan yang ada.

Dari beberapa contoh budaya positif yang dilakukan sekolah tentunya harus ada komitmen yang kuat dari warga sekolah, dari mulai kebiasaan yang baik hingga akhirnya menjadi budaya yang baik pula.

 

Putra Rizki Noto Negoro

Salam Guru Penggerak

Tergerak, bergerak, menggerakkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *